Panda di Taman
Renungan Kristen Sehari-hari

Panda di Taman


Terkadang, kita mengalami perjumpaan-perjumpaan yang aneh… Perjumpaan yang tidak biasa… Tidak disangka-sangka dan tiba-tiba… Yang membuat kita terkejut dan tak tahu harus berkata apa. Seperti itulah perjumpaan kami…

“Srek… Srek… Krosak…”

Bunyi aneh yang muncul dari semak-semak di sebelah kanan bangku yang kududuki. Ah, mungkin itu cuma kucing… Lagipula sore hari di taman seperti ini pasti banyak kucing yang berkeliaran. Dan aku kembali menyandarkan punggungku di kursi dan mengamati satu keluarga yang sedang piknik. Di bawah matahari sore, dua anak yang berlarian kejar-kejaran dan ayah yang membawa keranjang makanan dan ibu yang berjalan di sebelahnya tampak bagaikan image yang diambil dari sampul majalah keluarga. Dan aku tersenyum… Tersenyum karena dunia ini indah.

“Srek…”

Suara itu muncul lagi… Mungkin kucing yang sama… Rasanya aku masih punya tuna sandwich sisa tadi siang, mungkin dia mau. Dan aku membuka tasku dan mengambil sisa sandwich dan memanggil, “Pus… Meong… Keti… Felix… Bambang… Hanibani…..”

“Srekkkk.”

Sesuatu yang berwarna hitam putih muncul… Punya dua telinga… Buntut pendek bulat… Berjalan dengan dua kaki????

Dan di hadapanku muncul seekor… Atau lebih tepatnya sebuah boneka panda!

Dan untuk sesaat kami berdua diam dan berpandangan…

“Halo”, boneka panda itu bersuara.

“Kalau kau tidak menginginkan lagi sandwich itu, boleh itu untukku?”

Tanganku terulur dengan sendirinya.

“Boleh aku duduk di sebelahmu?”

Aku mengangguk.

Aku terkejut bukan karena boneka panda yang muncul, tapi karena kondisi boneka itu.

Tangan kirinya sepertinya tertarik robek dan tidak dijahit lagi, dan isi kapas mengintip dari tempat yang seharusnya pundaknya.

Matanya hilang satu dan di lehernya tampak melilit sehelai kain kotor yang sepertinya dulunya syal.

Dan hampir seluruh badannya dikotori tanah dan tempelan daun kering.

Tapi sepertinya dia tidak peduli dan sudah terbiasa, walaupun tangannya kotor tapi dengan santai dia makan sandwich. Tapi… Yah, boneka kan tidak bisa sakit perut…

“Kau terpisah dari keluarga yang memilikimu?”

Dia menoleh , “Tidak, aku tinggal di taman ini.”

“Kemana keluarga yang memilikimu? Apakah mereka tidak mencarimu?”

“Tidak, aku tidak punya keluarga.”

Caranya mengucapkan kata ‘keluarga’ terasa berbeda… Terasa dingin… Dan membuat rasa keingintahuanku muncul.

“Tapi, bukankah setiap boneka dimiliki oleh sebuah keluarga?”

Dia menghabiskan gigitan terakhir rotinya dan berkata , “Mungkin dulu aku punya keluarga, tapi mereka tidak membutuhkan mainan rusak. Jadi aku pergi dan tinggal sendiri di taman ini. Kau bisa melihat keadaanku kan? Kau bisa melihat kalau aku rusak… Damage…”

“Tapi, pastinya waktu kau pertama kali dibuat, kau tidak rusak kan? Pastinya kau sebuah boneka yang dibuat dengan sebaik mungkin dan dibuat untuk membahagiakan sebuah keluarga. Pastinya kau bukan boneka yang gagal produksi…” Protesku.

Dia tersenyum… Atau setidaknya kupikir dia tersenyum karena muka boneka itu tidak berekspresi… Tapi setidaknya rasanya di matanya yang hanya satu itu kulihat sekilas senyum…

“Kau orang baik… Terimakasih. Tapi apakah itu penting? Mungkin kau benar, mungkin aku terlahir sempurna. Mungkin kau salah, dan aku ini barang cacat produksi. Tapi, saat ini, bagaimanapun kedaanku dahulu, aku hanyalah barang rusak yang dibuang orang. Seperti yang kau lihat, sekarang aku rusak, lima tahun lagi aku akan tambah rusak, sepuluh tahun lagi aku akan sangat rusak dan dua puluh tahun lagi mungkin aku akan jadi alas salah satu sarang burung di taman ini. Apa pentingnya dahulu aku bagaimana?”

Dan aku terdiam.

“Tapi, pastinya waktu kau pertama kali dibuat, kau tidak rusak kan? Tapi… Aku mengenal seorang Pembersih yang hebat… Aku yakin dia akan bisa memperbaikimu dan membuatmu jadi boneka yang bagus lagi.”

Kali ini dia tertawa.

“Seharusnya sudah kuduga kalau kau kenalan si Pembersih. Terima kasih, tapi Pembersih itu hanya kabar gosip saja. Sejujurnya, aku tidak percaya kalau Dia ada. Bahkan, kalau pun Dia memang ada, kerusakanku sudah terlalu parah dan tidak bisa diperbaiki lagi, aku hanya akan menyusahkan-Nya.”

“Lagipula, jangan tersinggung, tapi ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang mengaku kenalan Pembersih. Kau tahu, hidup sebagai boneka buangan membuatku sedikit lebih peka terhadap pandangan mata orang. Dan dari sebagian kenalan Pembersih itu, mereka punya pandangan mata yang sangat menolak dan sebagian lagi, walaupun mereka berusaha menyembunyikan mata mereka, tapi aku tahu aku tidak diinginkan. Jadi, seandainya Pembersih itu ada pun, kalau kenalan-Nya saja tidak menginginkanku, apalagi Dia sendiri kan?”

“Kalau begitu, bagaimana kalau Kau ikut ke rumahku? Kau bisa bertemu keluargaku dan mungkin suatu hari nanti kau mau ikut bersamaku menemui Pembersih.”

Dan sekali lagi dia tersenyum… Atau kurasa dia tersenyum.

“Kau baik… Tapi hanya karena kau baik bukan berarti semua keluargamu baik. Kau lihat sendiri, badanku kotor penuh tanah, aku akan mengotori rumahmu dan membuat masalah. Apakah keluargamu akan sabar dan diam saja ? Kau tahu, sekalipun kau memandikanku hari ini, sisa kotoran yang ada dalam tubuhku mungkin akan memerlukan waktu bertahun-tahun sampai bersih, kalau bisa bersih. Dan bagaimana dengan anak-anak di keluargamu? Mereka masih sangat kecil, mungkin mereka akan tertular kuman dari tubuhku dan menjadi sakit. Kalau keluargamu menolakku, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau pergi bersamaku dan tinggal di taman ini? Ataukah kau akan membela keluargamu dan membuangku?”

Dan aku kembali terdiam.

“Tapi… Kau sendirian di sini…”

“Tidak apa-apa, aku punya teman kok”, jawabnya.

“Kau punya? Apakah mereka teman yang baik?”

“Terkadang, ada dua orang anak yang datang ke taman ini dan bermain denganku. Memang mereka mainnya agak kasar, tapi mereka baik. Mereka bermain lempar-lemparan dengan menggunakan diriku, tangan kiriku yang robek ini terjadi waktu kami main lempar-lemparan. Dan terkadang kami main kejar-kejaran, aku berlari dan mereka mengejarku sambil melemparkan gumpalan-gumpalan tanah. Kau lihat kan tanah dan daun kering di tubuhku ini? Itu terjadi ketika kami bermain.”

“Tapi… Itu bukan bermain… Mereka hanya memanfaatkanmu dan merusakmu… Itu bukan teman.”

Dan untuk sedetik… Aku bisa merasakan kemarahan… Dan juga kesedihan dari suaranya.

“KAMI BERMAIN…….. KAMI BERTEMAN!!”

“Mereka datang kesini dan menghabiskan waktu bersamaku!”

Suaranya menjadi lebih perlahan.

“Setidaknya mereka tahu aku ada disini… Dan aku diinginkan untuk bersama mereka menjadi permainan mereka… Itu lebih baik daripada sendirian… Tidak masalah apakah mereka merusakku atau tidak. Toh, aku sudah rusak, bertambah rusak pun tak mengapa.”

Dan sekali lagi aku terdiam.

Dia menghela napas… Atau setidaknya kupikir dia menghela napas dan turun dari kursi.

“Langit sudah mulai gelap, kau sebaiknya pulang. Keluargamu menunggu di rumah kan?”

Aku berdiri dan berkata, “aku akan datang lagi ke sini.”

Dia terdiam sejenak dan berkata, “aku tidak akan menunggu.” Dan kemudian masuk kembali ke semak-semak.

Sambil berjalan pulang aku berpikir, “dia benar, tidak semua orang dalam keluargaku dewasa. Sebagian mungkin akan menerimanya, tapi sebagian lagi mungkin akan berteriak dan mengusirnya.”

Dan dia sudah kehilangan semua rasa percaya, bukan hanya pada dirinya tapi juga pada semua orang. Kata-kata indah saja tidak akan membuatnya percaya.

Ahh… Mungkin lain kali aku akan datang lagi dengan beberapa teman, teman yang mau berteman dengannya. Dan kita akan membuat komunitas kecil di taman itu. Mungkin kalau dia sudah nyaman di komunitas, dia akan membuka hatinya sekali lagi. Dan mungkin dia akan mempercayai orang sekali lagi. Saat itu mungkin aku bisa membawanya ke Pembersih dan keluargaku yang lain. Dan mungkin saat itu dia akan belajar menerima kalau dirinya bukan barang rusak. Tapi yang pasti, kalau aku tidak bisa membuatnya memercayai kata-kataku, dia tidak akan mau datang ke Pembersih, dan dia akan selalu menganggap dirinya barang rusak.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi di FOS Community




(Sumber : FOS)
Label: edit post
Reaksi: 
0 Responses