Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
(Sumber : Hikmat Dari Tuhan Tentang Kehidupan)
Panda di Taman
Terkadang, kita mengalami perjumpaan-perjumpaan yang aneh… Perjumpaan yang tidak biasa… Tidak disangka-sangka dan tiba-tiba… Yang membuat kita terkejut dan tak tahu harus berkata apa. Seperti itulah perjumpaan kami…
“Srek… Srek… Krosak…”
Bunyi aneh yang muncul dari semak-semak di sebelah kanan bangku yang kududuki. Ah, mungkin itu cuma kucing… Lagipula sore hari di taman seperti ini pasti banyak kucing yang berkeliaran. Dan aku kembali menyandarkan punggungku di kursi dan mengamati satu keluarga yang sedang piknik. Di bawah matahari sore, dua anak yang berlarian kejar-kejaran dan ayah yang membawa keranjang makanan dan ibu yang berjalan di sebelahnya tampak bagaikan image yang diambil dari sampul majalah keluarga. Dan aku tersenyum… Tersenyum karena dunia ini indah.
“Srek…”
Suara itu muncul lagi… Mungkin kucing yang sama… Rasanya aku masih punya tuna sandwich sisa tadi siang, mungkin dia mau. Dan aku membuka tasku dan mengambil sisa sandwich dan memanggil, “Pus… Meong… Keti… Felix… Bambang… Hanibani…..”
“Srekkkk.”
Sesuatu yang berwarna hitam putih muncul… Punya dua telinga… Buntut pendek bulat… Berjalan dengan dua kaki????
Dan di hadapanku muncul seekor… Atau lebih tepatnya sebuah boneka panda!
Dan untuk sesaat kami berdua diam dan berpandangan…
“Halo”, boneka panda itu bersuara.
“Kalau kau tidak menginginkan lagi sandwich itu, boleh itu untukku?”
Tanganku terulur dengan sendirinya.
“Boleh aku duduk di sebelahmu?”
Aku mengangguk.
Aku terkejut bukan karena boneka panda yang muncul, tapi karena kondisi boneka itu.
Tangan kirinya sepertinya tertarik robek dan tidak dijahit lagi, dan isi kapas mengintip dari tempat yang seharusnya pundaknya.
Matanya hilang satu dan di lehernya tampak melilit sehelai kain kotor yang sepertinya dulunya syal.
Dan hampir seluruh badannya dikotori tanah dan tempelan daun kering.
Tapi sepertinya dia tidak peduli dan sudah terbiasa, walaupun tangannya kotor tapi dengan santai dia makan sandwich. Tapi… Yah, boneka kan tidak bisa sakit perut…
“Kau terpisah dari keluarga yang memilikimu?”
Dia menoleh , “Tidak, aku tinggal di taman ini.”
“Kemana keluarga yang memilikimu? Apakah mereka tidak mencarimu?”
“Tidak, aku tidak punya keluarga.”
Caranya mengucapkan kata ‘keluarga’ terasa berbeda… Terasa dingin… Dan membuat rasa keingintahuanku muncul.
“Tapi, bukankah setiap boneka dimiliki oleh sebuah keluarga?”
Dia menghabiskan gigitan terakhir rotinya dan berkata , “Mungkin dulu aku punya keluarga, tapi mereka tidak membutuhkan mainan rusak. Jadi aku pergi dan tinggal sendiri di taman ini. Kau bisa melihat keadaanku kan? Kau bisa melihat kalau aku rusak… Damage…”
“Tapi, pastinya waktu kau pertama kali dibuat, kau tidak rusak kan? Pastinya kau sebuah boneka yang dibuat dengan sebaik mungkin dan dibuat untuk membahagiakan sebuah keluarga. Pastinya kau bukan boneka yang gagal produksi…” Protesku.
Dia tersenyum… Atau setidaknya kupikir dia tersenyum karena muka boneka itu tidak berekspresi… Tapi setidaknya rasanya di matanya yang hanya satu itu kulihat sekilas senyum…
“Kau orang baik… Terimakasih. Tapi apakah itu penting? Mungkin kau benar, mungkin aku terlahir sempurna. Mungkin kau salah, dan aku ini barang cacat produksi. Tapi, saat ini, bagaimanapun kedaanku dahulu, aku hanyalah barang rusak yang dibuang orang. Seperti yang kau lihat, sekarang aku rusak, lima tahun lagi aku akan tambah rusak, sepuluh tahun lagi aku akan sangat rusak dan dua puluh tahun lagi mungkin aku akan jadi alas salah satu sarang burung di taman ini. Apa pentingnya dahulu aku bagaimana?”
Dan aku terdiam.
“Tapi, pastinya waktu kau pertama kali dibuat, kau tidak rusak kan? Tapi… Aku mengenal seorang Pembersih yang hebat… Aku yakin dia akan bisa memperbaikimu dan membuatmu jadi boneka yang bagus lagi.”
Kali ini dia tertawa.
“Seharusnya sudah kuduga kalau kau kenalan si Pembersih. Terima kasih, tapi Pembersih itu hanya kabar gosip saja. Sejujurnya, aku tidak percaya kalau Dia ada. Bahkan, kalau pun Dia memang ada, kerusakanku sudah terlalu parah dan tidak bisa diperbaiki lagi, aku hanya akan menyusahkan-Nya.”
“Lagipula, jangan tersinggung, tapi ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan orang yang mengaku kenalan Pembersih. Kau tahu, hidup sebagai boneka buangan membuatku sedikit lebih peka terhadap pandangan mata orang. Dan dari sebagian kenalan Pembersih itu, mereka punya pandangan mata yang sangat menolak dan sebagian lagi, walaupun mereka berusaha menyembunyikan mata mereka, tapi aku tahu aku tidak diinginkan. Jadi, seandainya Pembersih itu ada pun, kalau kenalan-Nya saja tidak menginginkanku, apalagi Dia sendiri kan?”
“Kalau begitu, bagaimana kalau Kau ikut ke rumahku? Kau bisa bertemu keluargaku dan mungkin suatu hari nanti kau mau ikut bersamaku menemui Pembersih.”
Dan sekali lagi dia tersenyum… Atau kurasa dia tersenyum.
“Kau baik… Tapi hanya karena kau baik bukan berarti semua keluargamu baik. Kau lihat sendiri, badanku kotor penuh tanah, aku akan mengotori rumahmu dan membuat masalah. Apakah keluargamu akan sabar dan diam saja ? Kau tahu, sekalipun kau memandikanku hari ini, sisa kotoran yang ada dalam tubuhku mungkin akan memerlukan waktu bertahun-tahun sampai bersih, kalau bisa bersih. Dan bagaimana dengan anak-anak di keluargamu? Mereka masih sangat kecil, mungkin mereka akan tertular kuman dari tubuhku dan menjadi sakit. Kalau keluargamu menolakku, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau pergi bersamaku dan tinggal di taman ini? Ataukah kau akan membela keluargamu dan membuangku?”
Dan aku kembali terdiam.
“Tapi… Kau sendirian di sini…”
“Tidak apa-apa, aku punya teman kok”, jawabnya.
“Kau punya? Apakah mereka teman yang baik?”
“Terkadang, ada dua orang anak yang datang ke taman ini dan bermain denganku. Memang mereka mainnya agak kasar, tapi mereka baik. Mereka bermain lempar-lemparan dengan menggunakan diriku, tangan kiriku yang robek ini terjadi waktu kami main lempar-lemparan. Dan terkadang kami main kejar-kejaran, aku berlari dan mereka mengejarku sambil melemparkan gumpalan-gumpalan tanah. Kau lihat kan tanah dan daun kering di tubuhku ini? Itu terjadi ketika kami bermain.”
“Tapi… Itu bukan bermain… Mereka hanya memanfaatkanmu dan merusakmu… Itu bukan teman.”
Dan untuk sedetik… Aku bisa merasakan kemarahan… Dan juga kesedihan dari suaranya.
“KAMI BERMAIN…….. KAMI BERTEMAN!!”
“Mereka datang kesini dan menghabiskan waktu bersamaku!”
Suaranya menjadi lebih perlahan.
“Setidaknya mereka tahu aku ada disini… Dan aku diinginkan untuk bersama mereka menjadi permainan mereka… Itu lebih baik daripada sendirian… Tidak masalah apakah mereka merusakku atau tidak. Toh, aku sudah rusak, bertambah rusak pun tak mengapa.”
Dan sekali lagi aku terdiam.
Dia menghela napas… Atau setidaknya kupikir dia menghela napas dan turun dari kursi.
“Langit sudah mulai gelap, kau sebaiknya pulang. Keluargamu menunggu di rumah kan?”
Aku berdiri dan berkata, “aku akan datang lagi ke sini.”
Dia terdiam sejenak dan berkata, “aku tidak akan menunggu.” Dan kemudian masuk kembali ke semak-semak.
Sambil berjalan pulang aku berpikir, “dia benar, tidak semua orang dalam keluargaku dewasa. Sebagian mungkin akan menerimanya, tapi sebagian lagi mungkin akan berteriak dan mengusirnya.”
Dan dia sudah kehilangan semua rasa percaya, bukan hanya pada dirinya tapi juga pada semua orang. Kata-kata indah saja tidak akan membuatnya percaya.
Ahh… Mungkin lain kali aku akan datang lagi dengan beberapa teman, teman yang mau berteman dengannya. Dan kita akan membuat komunitas kecil di taman itu. Mungkin kalau dia sudah nyaman di komunitas, dia akan membuka hatinya sekali lagi. Dan mungkin dia akan mempercayai orang sekali lagi. Saat itu mungkin aku bisa membawanya ke Pembersih dan keluargaku yang lain. Dan mungkin saat itu dia akan belajar menerima kalau dirinya bukan barang rusak. Tapi yang pasti, kalau aku tidak bisa membuatnya memercayai kata-kataku, dia tidak akan mau datang ke Pembersih, dan dia akan selalu menganggap dirinya barang rusak.
Ditulis Oleh Tukang Bakmi di FOS Community
(Sumber : FOS)
John dan Jessica telah berumah tangga selama 7 tahun..
Mereka saling mencintai, namun Jessica sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap John..Ia begitu takut apabila John mengetahui betapa ia mencintai pria itu, John lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih-kekasihnya selama ini..Tapi tidak bagi John..Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Jessica dengan tulus dan begitu terbuka..Setiap saat ketika bersama Jessica, John selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir John bersama Jessica..
Jessica selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap John..Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta John terhadapnya. Jessica selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada John..Meski Jessica tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap John yang tetap berlaku baik padanya, membuat Jessica tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yg dinikahinya itu..
Hari pertama pernikahan mereka.. Jessica bangun siang..Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk John ketika John hendak berangkat kerja..Namun John tetap tersenyum dan mengatakan, "Tidak apa-apa..Nanti aku bisa sarapan di kantor.."
Saat John pulang dari kantor, Jessica tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai John..Meski menyadari hal itu, Jessica tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu..John tetap tersenyum dan berkata, " Wah..sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan..Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang..Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya." Jessica terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam saat Jessica terlelap John memanjatkan doa, "Tuhan....Di pagi pertama pernikahan kami Jessica tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri.. Tapi tidak apa-apa, Tuhan.. Karena sepertinya Jessica kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam..Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia boleh punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok..Tuhan, Engkau tau betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik..Tapi sepertinya Jessica sudah bekerja keras untuk masak makanan itu..Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan..Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku.."
Tahun kedua pernikahan mereka..John membangunkan Jessica pagi-pagi untuk berdoa bersama..Namun Jessica menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. John tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri.
Sore hari sepulang kantor, John mengajak Jessica berjalan-jalan ke taman..Meski terpaksa, Jessica akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama John..Tetapi Jessica menolak rangkulan John, dan berkata, "Jangan, John..Aku malu.."..John tersenyum dan berkata, "Ya, aku mengerti.." Jessica melihat kekecewaan dimata John, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu..
Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.." Tuhan..Ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat padaMU pagi hari ini..Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat..Tapi aku yakin, Tuhan besok Jessica mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu..Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Jessica meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitive Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan."
Tahun ketiga pernikahan mereka. Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Jessica menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama John sebelum tidur. Jessica semakin sering menolak ciuman John..
Jessica memarahi John habis-habisan sore itu ketika John lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika John pulang kerja..Jessica tahu betapa hal itu membuat John terpukul..Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Jessica mengabaikan perasaan John..Dan John tetap tersenyum..
Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini..Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Jessica..Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur..Tapi tidak apa-apa..Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor..Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan....Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Jessica memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan..Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yg diminta istriku..Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Jessica, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya. .Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku."
Tahun keempat pernikahan mereka.. Jessica tidak ingat memasak makanan kesukaan John di hari ulang tahunnya..Jessica terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa John selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri diatasnya setiap ulang tahunnya tiba..
Jessica juga lupa menyetrika kemeja John yang menyebabkan John terlambat ke kantor pagi itu karena John terpaksa menyetrika sendiri kemejanya..Jessica tau kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.
Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Untuk kali pertama Jessica lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini..Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersyukur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku.. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa..mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Jessica..Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor..Jessica sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku akibat keterlambatanku hari ini kepada Jessica, Tuhan.. Jessica mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini.. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap..Aku yakin Jessica sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi..Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan."
Tahun kelima pernikahan mereka. Jessica menampar dan menyalahkan John karena Mark sakit sepulang mereka berenang..John terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat dirumah sakit....
Jessica mengancam akan meninggalkan John apabila terjadi apa-apa dengan Mark..Jessica melihat genangan air mata di mata John, namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan John.
Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu John lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis.." Tuhan..Tadi Jessica menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit.. Belum pernah Jessica bersikap dan berkata sekasar itu padaku, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian..Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan..Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya padaku..Tidak apa-apa, Tuhan..Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali.. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan.."
Tahun keenam pernikahan mereka.. Jessica semakin menjaga jarak dengan John setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka..Jessica tidak pernah lagi menemani John makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan..
Jessica juga menjual kalung berlian pemberian John dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika John mengetahui hal itu, Jessica tau John menahan amarahnya, namun Jessica berdalih, "John, itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru.."
Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya.."Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Jessica bersamaku.. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan..Engkau tau, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor..Tapi tidak apa-apa..Rebecca tentu lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku.. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku.. Hanya saja, jangan biarkan aku memendam sakit hati kepada Jessica karena menjual kalung pemberianku. .Engkau tau begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah padanya.."
Tahun ketujuh pernikahan mereka.. Jessica sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala John dan mencium kening suaminya sebelum John berangkat kantor..Padahal Jessica tau, selama ini apabila dia lupa melakukannya, John selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Jessica untuknya..Karena John tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Jessica padanya..Jessica tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka..
Dan di tahun ketujuh itu pula, John mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor..Ia mengalami pendarahan yang hebat, yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit..
Jessica begitu terguncang dan terpukul.. Ia begitu takut kehilangan John, suami yang dicintainya. .Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan..Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa John mencintainya.. Tak sedikitpun Jessica beranjak dari sisi tempat tidur John..Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri..Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini..
Karena begitu sedih dan lelah menunggui John, Jessica tertidur..Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa John pada Tuhan membawa Jessica melihat setiap malam yg John lewatkan untuk mendoakan Jessica..Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yg besar dari John padanya..Tak sedikitpun John menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri John selama ini..Alih-alih demikian, John malahan menyalahkan dirinya sendiri.. Jessica menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Jessica berdoa, "Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku.. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini.. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan.. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai.."
Dan ketika Jessica terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya.." Kamu keliatan begitu lelah, sayang.. Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir..Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU padaku.."..Belum selesai John berbicara, Jessica lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya..
"Maafkan aku, John..Maafkan aku..I LOVE YOU..I really Love you..Kaulah matahariku, John..Aku tidak bisa bertahan tanpamu..Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu. .Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi..I LOVE YOU, John..I LOVE YOU."
Berapa banyak diantara kita yg menjadi seperti Jessica? Yang mengabaikan perasaan kekasih hati kita demi kepentingan dan harga diri kita sendiri? Jangan sampai terjadi sesuatu yang berat untuk kita lalui demi menyadari betapa berharganya orang-orang yang mengasihi kita..
Lebih dari itu, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa seperti John, yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan pasangan hidup kita sebagai subjek untuk dikasihi dan dilayani, bukan sebaliknya..
Salam,
(Sumber : Elia Groups)
Value your time
Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga.
Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.
Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah. Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.
Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah, ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.
Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, “Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi.”
Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya.
Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser.
“Halo?” suara ibunya membangunkannya.
“Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu,” kata Jack
“tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku.”
“Oh tidak, Jack,” kata ibunya, “Pak Belser selalu ingat padamu.
Ia ingat akan hari-hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal.”
“Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau, aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini.” kata Jack.
Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.
Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser.
Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey…
Jack terdiam sejenak.
“Kotak emas di ujung meja itu hilang!” seru Jack.
Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. “Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab ‘Pokoknya berharga deh’.”
Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.
Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca. Jack membuka paket itu… Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat .
Jack membaca surat itu,
“Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki.” Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu. Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu.
Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya,
“Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser.”
“Yang ia hargai dariku adalah… waktuku.” serunya perlahan.
Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. “Mengapa?” tanya Janet, sekertarisnya.
“Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku,” kata Jack, “dan Janet, terima kasih untuk waktumu.”
Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan.
Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak.
Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.
Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda ?
Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka
(Sumber : renungan)
Foto Di Atas Meja
Seorang artis pencandu obat-obatan dan divonis oleh dokter bahwa dia terkena virus HIV, kini tergolek sekarat di rumahnya. Seorang teman datang untuk menghibur dan mencoba menguatkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah diperbuat sang artis ini telah membutakan nya sehingga dia merasa sangat putus asa. "Aku berdosa', katanya. "Aku telah menghancurkan hidupku sendiri dan kehidupan banyak orang di sekelilingku. Sekarang aku tersiksa dan tidak ada lagi yang bisa aku perbuat untuk memperbaikinya. Aku akan masuk neraka."
Temannya ini meihat ada sebuah potret gadis kecil yang cantik dan lucu dengan figura indah di atas meja kecil di samping tempat tidur sang artis. Lalu dia bertanya,"Foto siapa ini?"
Mendengar pertanyaan itu, si artis bangkit semangatnya dan menjawab dengan antusias, " Itu putriku. Dia adalah mutiara hidupku. Satu-satunya yang terindah yang aku miliki."
"Apakah kamu akan menolongnya jika dia mendapat kesulitan atau apakah kamu memaafkannya apabila dia melakukan kesalahan. Apakah kamu masih menyayanginya?", tanya sang teman.
"Tentu saja," jawab sang artis. "Aku akan melakukan apapun demi dia. Mengapa kamu bertanya seperti ini?"
"Saya ingin kamu tahu bahwa Allah juga punya foto dirimu di atas mejanya."
Sang artis tersentak. Sudah lama ia tidak mendengar kata Allah dan bahkan tidak pernah mengucapkannya.
Saudara, mengapa kita sering menghakimi diri kita sendiri dengan tuduhan-tuduhan yang kejam, dengan pikiran-pikiran yang jelek? Kalau kita saja mengahkimi diri sendiri seperti itu, bagaimana dengan orang lain? Apakah kita lupa, bahwa kita ini milik kepunyaan Allah? Apakah kita lupa pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk membuktikan kepada kita bahwa kita ini berharga dan mulia. Kita sangat sangat dikasihi-Nya. Seburuk apapun kesalahan dan pelanggaran kita, Allah mau mengampuninya. Kasih-Nya menutupi semuanya. Kasih-Nya tulus, yang dibuktikanNya dengan datang sebagai Bayi kecil, kemudian Dia mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita dan menguduskan kita sekali untuk selamanya. Dia bukan hanya mempunyai foto diri kita, tapi juga keseluruhan hidup kita. Kita harus bersyukur karena kita terpahat ditanganNya.
(Sumber : Buku Hikmat Dari Tuhan Tentang Kehidupan)
Setelah menyanyi beberapa puji-pujian, gembala sidang berdiri dan berjalan ke mimbar. Sebelum ia mulai dengan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang tamu pembicara yang hadir dalam ibadah malam itu. Dalam perkenalannya, pendeta bercerita kepada jemaatnya bahwa tamu itu merupakan salah seorang teman akrabnya sejak ia masih kanak-kanak. Ia memohon agar temannya memberi sedikit sambutan serta berbagi rasa akan pengalamannya yang ia rasakan bisa menjadi berkat untuk jemaatnya.
Kemudian, seorang yang sudah tua maju ke mimbar dan mulai berbicara. “Seorang ayah dan puteranya serta seorang teman dari anaknya sedang berlayar di samudra Pasifik, ketika mereka diterpa oleh sebuah badai besar sehingga mereka tidak dapat kembali ke arah pantai. Ombak yang ditimbulkan badai itu menjadi begitu tinggi, sehingga ayahnya, yang adalah seorang pelaut yang berpengalaman, tidak dapat menguasai kapalnya sehingga akhirnya kapalnya terbalik dan ketiga orang itu terlempar ke dalam samudra.”
Orang tua itu sejenak ragu-ragu seraya perhatiannya tertuju kepada dua orang pemuda yang sejak semula kelihatannya tertarik terhadap jalannya cerita itu. Kemudian orang tua itu melanjutkan ceritanya.
“Dengan meraih sebuah tambang penyelamat jiwa, ayah itu harus mengambil suatu keputusan yang amat dahsyat yang ia pernah alami selama hidupnya: kepada anak yang mana ia akan melemparkan ujung tambang penyelamat itu. Ia hanya punya beberapa detik waktu untuk mengambil keputusannya. Ia tahu bahwa puteranya adalah orang yang sudah percaya dan ia pun tahu bahwa teman anaknya masih belum percaya. Penderitaan batin yang amat mendalam akan keputusannya itu tidak dapat dibandingkan dengan keganasan dari ombak badai itu. Seraya ia menjerit, “Aku mengasihimu anakku”, ia melemparkan tambang penyelamat itu ke arah teman anaknya. Ketika ia menarik tambang kembali dari teman anaknya ke kapalnya yang sedang karam itu, anaknya sendiri sementara sudah hilang ditelan oleh gelombang-gelombang yang sedang mengamuk dalam kegelapan malam hari. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi.”
Pada saat itu, kedua pemuda yang duduk dengan tegak di bangku itu sangat ingin mengetahui kelanjutan dari cerita itu. “Ayahnya,” orang tua itu meneruskan, “tahu bahwa anaknya masuk ke dalam keabadian dengan Yesus dan ia tidak dapat menanggung beban untuk membayangkan teman anaknya bila seandainya ia harus memasuki keabadian tanpa Yesus. Karena itulah ia rela mengorbankan anaknya sendiri untuk dapat menyelamatkan teman anaknya. Betapa besar kasih Tuhan bahwa Ia dapat melakukan yang sama untuk kita. Bapa kita sorgawi telah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Maka aku sangat menghimbau, kiranya Anda pun menerima kesediaan-Nya yang menyelamatkan Anda dengan memegang erat-erat Tambang Penyelamat”
Sesudah mengatakan kalimat terakhir itu, orang tua itu kembali duduk sementara terdapat keheningan di antara jemaat. Gembala sidang kemudian menaiki mimbar dan menyampaikan khotbah singkatnya seraya mengundang jemaat untuk menerima tawaran keselamatan. Namun, tidak seorangpun memberikan responnya.
Beberapa menit setelah usai kebaktian, kedua pemuda itu berada di sisi orang tua tersebut. “Kisahnya bagus sekali, pak”, kata salah seorang pemuda itu, “namun aku khawatir bahwa sungguh tidak realistis bagi ayah itu untuk mengorbankan anaknya dengan pengharapan bahwa temannya akan menjadi seorang percaya.”
“Ah, pemikiran Anda memang masuk akal”, jawab orang tua itu, sambil matanya ditujukan kepada Alkitabnya yang sudah tua itu. Kepedihan mulai mengambil alih senyum wajahnya ketika ia memandang kedua pemuda itu seraya berkata, “Memang benar, hal itu tidak terlalu realistis, bukan? Namun aku pada hari ini berada di sini untuk mengatakan kepadamu, aku bisa lebih mengerti daripada kebanyakan orang lain, betapa dahsyat kepedihan Bapa sorgawi yang dialami dan dirasakan ketika Ia mengorbankan AnakNya yang tunggal. Sebab, akulah orang yang kehilangan anakku di tengah samudera pada hari kejadian itu dan teman anakku yang kuselamatkan adalah pendetamu sekarang ini.”
(Sumber : Rumah Renungan)
Sheila baru saja duduk di depan televisi, ketika terdengar dari dalam kamar Raka, anaknya yang baru berumur tujuh tahun, sedang berdoa. Buat Shiela apa yang diucapkan bocah yang duduk di kelas satu sekolah dasar dalam doanya itu bukanlah hal aneh lagi. Tapi tidak bagi orang lain yang mendengarnya.
Bulan lalu Retha, adiknya yang tinggal di Surabaya, datang berkunjung ke rumahnya, terheran-heran mendengar Raka berdoa. Ia bahkan sampai terbahak-bahak hingga matanya berair.
"Namanya juga anak SD. Jadi, doanya juga ala anak SD dong," Shiela membela.
"Bukan maksudnya ngeledek, tapi saya benar-benar kagum. Anak sekecil Raka sudah biasa berdoa sendiri."
Shiela mengecilkan suara televisi yang sedang memutar final Indonesian Idol, dan mencoba menyimak doa Raka.
"Tuhan, kemarin 'kan Raka cerita kalau Raka punya kawan baru di sekolah. Namanya Bunga. Itu loh Tuhan, yang rambutnya keriting. Ternyata bapaknya sopir angkot, Tuhan ..."
Shiela yang sedang minum langsung tersedak, saking kagetnya.
"Oh iya Tuhan, boleh nggak Raka minta Bandung dijadikan ibu kota negara Indonesia. Soalnya, tadi waktu ulangan sejarah, Raka jawab Bandung yang jadi ibukota negara Indonesia. Harusnya 'kan Jakarta, tapi Raka lupa ..."
Untuk kedua kalinya Shiela menyemburkan air dari mulutnya. Ia berlari ke dapur, menumpahkan tawanya.
"Mah ... Mamah, bangun Mah, sudah pagi."
Shiela membuka matanya. Didapatinya Raka berdiri di samping tempat tidurnya dengan seragam sekolah.
"Ya ampun, Sayang. Mama kesiangan, jadi lupa buatin sarapan buat kamu."
Shiela meraih anaknya, lalu dipeluknya erat.
"Udah Mah, tadi dibuatin Mbak Hani."
"Oya? Emangnya dibuatin sarapan apa sama Mbak Hani?" Shiela menatap wajah anaknya lekat.
"Susu cokelat sama sereal."
"O ... ya sudah. Yuk, Mama antar ke sekolah."
"Iya Mah, tapi Raka berdoa dulu ya ..."
Shiela tersenyum, lalu dibimbingnya Raka masuk ke dalam kamarnya, dan dia sendiri bergegas ke kamar mandi. Langkahnya terhenti ketika terdengar dari dalam kamar. Anaknya berdoa.
"Tuhan, Raka baru saja bangunin Mamah. Hari ini Mamah kesiangan, jadi nggak sempat bikin sarapan buat Raka. Besok pagi, Tuhan kalau Mamah Raka tidak bangun pagi lagi, siram aja dengan air ..."
Sialan! Rutuk Shiela, lalu masuk ke kamar mandi.
"Tuhan, Raka harus ke sekolah dulu ya. Nanti malam Raka cerita lagi. Tapi, jangan bosan ya Tuhan ? Kalau Tuhan bosan dengar cerita Raka, nanti Raka cerita ke siapa lagi? Raka 'kan nggak punya adik. Abah Raka suka pulang malam, jam segini pasti sudah berangkat ke kantor, habis kantor Abah Raka jauh sih. Kadang-kadang Raka juga sebel sama Abah, habis pulangnya suka malam. Tapi nggak papa Tuhan, biar Raka bisa maen sepuasnya sepulang sekolah. Abah suka nyuruh-nyuruh Raka bobo siang. Jagain Raka ya Tuhan Yesus, Amin."
Suara loncenga bedentang merdu. Alunan lagu Natal kembali bergema. Sheila baru saja mendapat telepon dari Alex, suaminya yang kini sedang tugas belajar di luar negeri. Hatinya berbunga-bunga mendapat berita bahwa Alex akan pulang dan merayakan Natal bersama mereka.
"Mah, kapan Abah pulang ?"
Dengan tersenyum disampaikannya kabar baik bahwa abahnya akan pulang merayakan Natal bersama.
"Hore, Abah pulan!" Sambut Raka sambil melompat.
"Kangen ya sama Abah?" Goda Shiela.
"Nggak. Raka pegen mainannya aj."
Tapi dari sorot matanya, Shiela tahu kalau Raka kangen berat dengan abahnya. Tapi Raka tidak mengaku, karena sering diledekin cengeng sama abahnya.
"Kok belum bobo, Nak?"
"Sebentar lagi, Raka lagi menggambar."
"Oya, gambar apa? Boleh nggak Mamah liat?"
Raka berlari ke kamarnya, kemudian muncul sambil membawa kertas di tanggannya.
"Gambar apa sih?" Tanya Shiela ketika anaknya sudah duduk di sebelahnya.
Lalu bertanya lagi, "Ini gambar siapa?"
"Mamah."
"Ini?"
"Abah."
"Ini?" Tanya Shiela cepat.
"Oh ... ini Tuhan."
Shiela mengganguk sok mengerti.
"Ya udah, sana bobo. Nanti terlambat ke sekolah besok pagi mamah janji bangunnya lebih pagi, oke?"
"Oke Mah ..."
"Tuhan, terima kasih ya atas hari ini. Pasti Tuhan lagi sayang sama Raka soalnya tumben hari ini Raka nggak dimarahin sama Bu Guru. Tuhan, tadi siang Rudi, teman Raka, berkelahi sama Roni. Kasihan deh Tuhan, hidungnya sampai berdarah. Lalu Roni dihukum sama Bu Guru, disuruh nyuci kamar mandi sendirian. Oya Tuha, lindungi Abah Raka. Raka kangen ... sama Abah. Jelek-jelek gitu 'kan abah Raka ..."
Ayah yang terlalu sibuk adalah seorang ayah yang sangat larut dalam pekerjaannya.
Setiap hari ia berangkat sebelum anak-anaknya bangun dan pulang setelah anak2nya tertidur lelap.
Ryan Hreljac adalah seorang anak laki-laki berumur duabelas tahun. Ryan tinggal bersama keluarganya di sebuah desa, di perbatasan kota Kemptville. Kota Kemptville terletak di sebelah selatan Ottawa , ibu kota Kanada. Jarak Kemptville dan Ottawa dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam.
Meskipun usianya masih sangat muda. Ryan kecil punya sebuah mimpi yang sangat besar. Ryan ingin melihat semua orang Afrika bisa minum air bersih! Sejak berumur enam tahun dan masih duduk di kelas satu SD, Ryan sudah bekerja keras agar mimpinya dapat menjadi kenyataan. Karena kerja kerasnya itu, Ryan terpilih untuk menerima hadiah istimewa: pada tanggal 16 Oktober 2003 ia menerima Komuni Kudus langsung dari tangan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II dalam Misa Peringatan 25 tahun masa kepausan beliau! Yuk, kita simak obrolan Kak Dewi dengan Ryan dan Susan (mamanya Ryan).
D : Hai, Ryan! Bagaimana perasaanmu ketika terpilih untuk menerima Komuni Kudus dari Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam Yubileum Perak Kepausan beliau?
R : Wah! Saya merasa mendapat kehormatan yang luar biasa! Sampai sekarang, saya kadang-kadang masih merasa tidak percaya bahwa saya terpilih!
D : Bagaimana ceritanya sampai kamu bisa terpilih?
R : Romo Alvaro Correa memintakan izin dari Vatikan agar saya boleh menerima Komuni tersebut. Romo Alvaro adalah pastor yang berasal dari Meksiko dan bekerja di Roma. Beliau mengajar di seminari-seminari. Bulan Februari yang lalu, beliau membaca sebuah tulisan tentang kegiatan saya dalam majalah Italia bernama "Familiar Christiana" dan sejak itu kami berteman.
D : Apa saja kegiatanmu selama di Roma?
R : Saya bersama Papa dan Mama melewatkan beberapa hari yang sangat menyenangkan bersama Romo Alvaro. Saya juga berbicara di beberapa sekolah dan gereja di utara Italia sebelum ke Roma. Perjalanan kami kali ini diatur oleh sekelompok anak muda dari kota Cremona . Saya bertemu dengan banyak orang yang mengagumkan dan menyimpan banyak kenangan.
D : Bisa ceritakan, sejak kapan kamu mempunyai mimpi yang begitu hebat?
R : Waktu itu, tahun 1997, umur saya masih 6 tahun dan duduk di kelas satu SD. Suatu hari, bu guru Prest bercerita tentang orang-orang di Afrika yang sangat miskin dan menderita. Saya sangat iba mendengar bahwa ada orang-orang yang tidak bisa minum air bersih. Mereka minum air kotor dari rawa dan sungai yang membuat mereka sakit dan mati. Kata bu guru, kalau saya punya uang 70 dolar, saya bisa menolong mereka. Jadi, sepulang sekolah, saya minta uang pada Papa dan Mama.
D : (Bertanya kepada Susan) Lalu, bagaimana reaksi Papa dan Mama?
S : Kami bangga dengan ketulusan hati Ryan, tapi bingung juga. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana caranya seorang anak kelas satu SD dari Kanada mau menggali sebuah sumur untuk orang-orang di Afrika! Tapi saya dan Mark, suami saya, sangat percaya bahwa keinginan Ryan itu adalah panggilan Tuhan dan kami sepakat untuk mendukungnya. Kami beri dia semangat untuk melakukan pekerjaan tambahan di luar tugas rutinnya memberi makan anjing dan merapikan tempat tidur pada saat itu. Untuk semua pekerjaannya, dia akan mendapat upah.
D : Kemudian, apa yang kamu lakukan, Ryan?
R : Setiap malam saya berdoa, "Tolonglah, Tuhan, berkati Papa dan Mama serta abang dan adik saya. Dan tolonglah agar semua orang di Afrika bisa minum air bersih." Saya percaya, doa seorang anak kecil bisa mendatangkan rahmat Tuhan yang membuat mimpi menjadi kenyataan! Tapi saya juga tahu bahwa supaya mimpi menjadi nyata, saya harus bekerja keras dengan sepenuh hati. Jadi, selama beberapa minggu saya membantu membersihkan perabotan rumah, memberi makan anjing dan merapikan tempat tidur. Saya juga membersihkan jendela, menyapu garasi, membantu tetangga membersihkan halaman rumah, memunguti ranting-ranting pohon yang berserakan di jalan setelah badai es, mengumpulkan pucuk pinus untuk nenek yang suka membuat kerajinan tangan. Setiap sen upah yang saya terima, saya tabung. Setiap malam, saya selalu mengakhiri doa dengan kalimat, "Tuhan, tolonglah saya agar bisa mendapatkan air bersih untuk orang- orang miskin di Afrika."
D : Lalu, apa yang terjadi?
R : Empat bulan kemudian, Papa dan Mama mengantar saya ke kantor WaterCan, sebuah organisasi di Ottawa yang menangani penggalian sumur-sumur di Afrika. Saya perlihatkan seluruh uang tabungan saya kepada Nicole Bosley, direktur organisasi tersebut. Eh, dia bilang, "Terima kasih, Ryan. Tapi 70 dolar hanya cukup untuk membeli sebuah pompa. Untuk menggali sebuah sumur, kamu perlu 2.000 dolar". Jadi saya jawab,"Baiklah, saya akan bekerja lebih keras lagi."
D: Apa yang kamu lakukan sesudah itu?
R : Saya kerja keras dari musim semi, musim panas hingga musim gugur. Setiap minggu, saya mendapat beberapa dolar dan saya tabung. Brenda, teman Mama yang bekerja di koran "the Kemptville Advance", menulis sebuah cerita tentang proyek saya. Beberapa pembaca yang tergerak hatinya mulai memberikan sumbangan. Kemudian, koran "the Ottawa Citizen" juga menerbitkan cerita tentang "Sumur Ryan".
Ketika saya berumur 7 tahun, sebuah stasiun televisi menayangkan cerita tentang mimpi saya. Sumbangan mulai membanjir dan saya berhasil mengumpulkan 1.000 dolar. Kemudian, The Canadian International Development Agency yang bekerja sama dengan WaterCan, menghadiahkan program penggandaan. Untuk setiap dolar yang berhasil saya kumpulkan, mereka akan menyumbangkan sejumlah yang sama, sehingga menjadikannya dua kali lipat.
D : Wah, berarti, pada umur 7 tahun, kamu sudah mengumpulkan 2.000 dolar, dana yang cukup untuk menggali sebuah sumur di Afrika!
R: Begitulah. Syukur kepada Tuhan. Saya dan Mama lalu diundang ke pertemuan khusus dengan WaterCan. Dalam pertemuan itu, saya bertemu Gizaw Shibru, direktur the Canadian Physicians for Aid and Relief (CPAR) untuk Uganda . Kami berdua memilih tempat untuk sumur yang akan digali, sumur pertama saya. Kami memilih Angolo Primary School . Shibru menjelaskan bahwa sumur itu akan digali dengan tangan karena biaya untuk pengeboran sangat mahal. Untuk mengebor sebuah sumur kecil saja diperlukan 25.000 dolar. Spontan saya berkata, "Mungkin saya bisa mulai mengumpulkan uang untuk pengeboran supaya Anda bisa menggali lebih banyak sumur."
D : Luar biasa. Jadi, kamu semakin giat menggalang dana lagi sesudah itu?
R : Ya, dengan dukungan seluruh keluarga. Keegan, adik saya, membantu menempelkan perangko pada surat-surat yang akan saya kirim. Jordan , abang saya, membantu membuat peralatan audio visual supaya saya bisa memberi presentasi yang meyakinkan tentang proyek saya.
D : Bagaimana caramu membagi waktu untuk studi dan untuk semua kegiatanmu?
R : Setiap hari, setelah mengerjakan PR, saya mengunjungi sejumlah klub untuk menyampaikan presentasi tentang proyek saya. Semakin banyak saya memberi presentasi, semakin banyak sumbangan yang datang. Teman-teman sekelas saya di kelas dua menempatkan sebuah kotak sumbangan di ruang kelas dan memulai kampanye sahabat pena dengan murid-murid Angolo Primary School . Sahabat pena saya yang pertama adalah Jimmy Akana, seorang anak yatim piatu yang pada waktu itu berumur 8 tahun.
BULAN Januari 1999, keluarga Hreljac menerima kabar bahwa Sumur Ryan telah menjadi berkat bagi banyak orang kampung yang kehausan. Malam itu, Ryan menambahkan satu permohonan dalam doanya, "Tuhan, jagalah sahabat-sahabat saya, Jimmy dan Gizaw, dan izinkan saya melihat sumur saya suatu hari nanti." Orangtua Ryan mengatakan bahwa mereka bisa mulai menabung supaya dapat pergi ke Uganda , tetapi mungkin Ryan perlu menunggu sampai umur 12 tahun agar tabungan mereka cukup untuk biaya perjalanan itu.
Tetangga sebelah rumah keluarga Hreljac, Beverly dan Bruce Paynter, sering melakukan perjalanan dengan pesawat terbang dan memperoleh point penerbangan gratis yang diberikan perusahaan penerbangan sebagai ungkapan terima kasih untuk perjalanan mereka. Pada tanggal 1 Januari 2000, suami isteri tersebut menghadiahkan semua point yang mereka kumpulkan kepada keluarga Hreljac.
Bulan Juli 2000, Mark, Susan dan Ryan terbang ke Afrika menggunakan sumbangan dari tetangga sebelah, ditambah sumbangan dari beberapa donatur lain. Gizaw Shibru menjemput mereka dengan sebuah truk. Ketika mereka tiba di Angolo, ratusan orang berdiri di sepanjang jalan sambil bersorak, "Rayan! Rayan! Rayan!" Anak-anak sekolah berseragam putih biru berdiri di sepanjang jalan dan bertepuk tangan ketika Ryan berjalan menuju sumurnya. Sumur itu dihiasi bunga-bunga dan diukir dengan tulisan: Sumur Ryan, dibangun oleh Ryan H. Di sanalah Ryan berjumpa dengan Jimmy untuk pertama kalinya. Mereka. memompa bersama dan memancarlah air bening dari saluran pompa tersebut. Kedua anak laki-Iaki itu bersama-sama menadah air dengan tangan mereka dan meminumnya. Air yang telah mereka mimpikan bersama sejak lama!
Di bawah ini adalah cerita Susan tentang Jimmy Akana:
Jimmy Akana lahir di desa Otara, wilayah Abela, negara bagian Otwal pada tahun 1989. Dalam usia sangat muda, dia sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Pada saat ayahnya meninggal, ibunya diculik oleh sekelompok orang bersenjata yang membenci umat Katholik dan diperkirakan sudah terbunuh. Pada tahun 1994, Sophia Ameny, tantenya yang tinggal di Otwal mengadopsi Jimmy. la tinggal bersama tantenya hingga musim panas tahun 2002 ketika kegiatan pemberontakan di daerah tersebut semakin menjadi-jadi dan keluarga Sophia Ameny terpaksa mengungsi.
Jimmy mulai bersekolah pada tahun 1996. Nilainya selalu berada di peringkat atas. Itulah sebabnya kami memilih Jimmy untuk menjadi sahabat pena Ryan pada tahun 1999, setelah sumur Ryan yang pertama di samping Angolo Primary School di utara Uganda diresmikan. Ketika kami mengunjungi Uganda , Jimmy menyatakan kerinduannya untuk dapat bersekolah di Kanada.
Saat kami di Uganda , Jimmy dan Ryan sering main bersama. Mereka sangat menikmati persahabatan mereka. Ryan tahu bahwa Jimmy adalah seorang anak laki-Iaki biasa seperti dirinya meskipun Jimmy terkenal sebagai pemain sepak bola yang hebat. Setelah mendapat izin dari Sophia Ameny, wali Jimmy pada saat itu, dan Jimmy sendiri, pada musim gugur 2000, kami mulai mempelajari kemungkinan untuk mengadopsi Jimmy. Ternyata, ada larangan untuk mengadopsi anak di atas usia 3 tahun kecuali ada hubungan darah atau kondisi lain yang meringankan. Banyak orang mengatakan bahwa kami tidak akan diperbolehkan mengadopsi Jimmy. Maka, selama beberapa tahun, kami hanya mengirimkan uang ke Uganda supaya Jimmy dapat tetap bersekolah.
Pada tanggal 25 Oktober 2002, teman kami dari The Canadian Physicians for Aid and Relief (sebuah lembaga sosial yang berkantor pusat di Toronto ) pergi mengunjungi Otwal. Mereka memperoleh informasi bahwa Jimmy Akana pernah diculik namun berhasil melarikan diri. Tetapi, dua orang sepupunya terbunuh dan dua lagi diculik lalu dinyatakan hilang. Akhirnya, suami dan saya sepakat bahwa kami harus mengadopsi Jimmy. Kami meminjam uang dan membayar seorang penasehat hukum. Jimmy memohon status sebagai pengungsi dari pemerintah Kanada pada bulan Juli 2003 dan memperolehnya pada bulan September 2003. Kami sungguh terharu! Sekarang anak kami bertambah satu. Jimmy dan Jordan saat ini menjadi teman sekelas di St. Michael Catholic High School di kelas 9. Ryan juga bersekolah di sana . Saat ini, Ryan kelas 7. Keegan, anak bungsu kami, masih kelas 4 di Holy Cross School .
D : Terima kasih, Susan dan Ryan, untuk semua cerita kalian. Susan, dengan semua kesibukan Ryan, bagaimana caramu dan suami membagi waktu untuk pekerjaan, untuk keluarga dan untuk mendampingi anak-anak?
S : Suami saya, Mark adalah seorang detektif dan saat ini ditugaskan untuk mendampingi kaum muda. Saya sendiri bekerja sebagai konsultan untuk pemerintah Ontario . Pekerjaan untuk Ryan's Well Foundation, kami lakukan setelah saya dan suami pulang kerja dan anak-anak selesai mengerjakan PR. Ryan's Well Foundation adalah yayasan yang didirikan Ryan di bulan April 2001 untuk menggalang dana bagi penggalian sumur di Afrika. Hingga saat ini, Ryan's Well Foundation sudah membangun lebih dari 70 buah sumur di Afrika.
Sebagai orang Katholik, kami berusaha untuk sebisa mungkin berkumpul bersama seluruh keluarga pada jam makan di mana kami juga berdoa untuk orang-orang yang kurang beruntung dibanding kami. Kalau Ryan tidak ada acara perjalanan, kami juga berusaha menghadiri misa akhir minggu bersama seluruh keluarga.
D: Dan, kamu, Ryan, dengan kesibukanmu di sekolah dan di Ryan's Well Foundation, apakah kamu masih punya waktu untuk melakukan kegiatan lain?
R : Ya, saya selalu punya waktu untuk berdoa. Saya juga menjadi asisten kapten dalam sebuah ice hockey team. Saya suka main basket, saya suka membaca dan saya suka tertawa. Saya suka bermain dengan Riley, anjing saya; dengan Jimmy, sahabat yang sekarang menjadi abang saya; dengan Jordan dan Keegan, abang dan adik saya.
D : Hebat, Ryan! Kamu memang anak yang luar biasa!
R : Oh, jangan katakan itu! Saya adalah anak laki-laki yang biasa-biasa saja. Tuhan memberi saya orangtua yang sangat mendukung anak-anak mereka; sebuah keluarga yang bahagia. Saya pergi ke sekolah dan saya menikmati hobi, melewatkan banyak waktu bersama teman-teman. Satu hal yang saya percaya, Tuhan mempunyai maksud tertentu ketika la menciptakan kita sebagai makhluk yang tidak sempurna. Seandainya kita semua diciptakan menjadi makhluk yang sempurna, kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk menjadikan dunia ini menjadi sebuah tempat yang lebih baik. Dan saya juga percaya, jika kita semua, tua-muda, orang dewasa maupun anak-anak, bekerja sama memperbaiki dunia, maka mimpi kita akan menjadi nyata. Suatu hari nanti, semua orang di muka bumi ini akan bisa minum air bersih! Yang perlu kita lakukan adalah bekerja keras dengan sepenuh hati, melakukan segala sesuatu dengan hati yang penuh kasih dan senantiasa berdoa mohon bantuan rahmat Tuhan".
Sumber : Andreas Kids - Warta Andreas No. 11, Th. XVII, November 2003, Media Komunikasi Paroki Kedoya, Gereja St. Andreas, Jakarta Barat
Milikku yang paling berharga
Aku sangat menyukai ucapan mama : "Barang milikku yg paling berharga adalah kamu!"
ucapan yang sangat menyejukkan hati. Dan sampai sekarang aku masih mengingatnya. ..
Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yang dialami para muda-mudi dizaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi dizaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan masing-masing. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dengan papa dan tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai! Yang nyaris memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja!
Papa dan mama bekerja di perusahaan yg sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname digudang, hingga pukul 02.00 dinihari dan baru pulang kerumah.
Papa sangat letih dan lapar, sampai dirumah tidak ada makanan maupun minuman yg siap disaji. Papa yg lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, ditambah lagi dengan adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehigga dengan kondisi yg labil itu, mama spontan menjawab dengan nada keras, " mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"
Karena papa juga terlalu capek dan langsung menjawab dengan acuh tak acuh, " kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu! "
Mama langsung merespon, "tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"
Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dengan emosi, "kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut,ya? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"
Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yg begitu keras,setelah terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air Mata, "kamu ingin aku pergi....... .aku akan pergi sekarang!" mama segera kembali kekamar untuk mengemasi barangnya.
Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yg membelakanginya, "bagus! Pergi sana ! Ambil semua barangmu dan jangan kembali lagi!"
Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar, merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul masuk kamar dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan air Mata. Sambil menatap koper kulit besar yang masih tergeletak diatas ranjang. Melihat papa datang, dengan terisak-isak mama berkata, "duduklah diatas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa-masa perpisahan kita yg terakhir."
Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, " "untuk apa?"
Sambil menangis dng terputus-putus mama berkata, "emas dan perak aku tidak memilikinya, " tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan anak-anak, aku tidak memiliki apapun...."
Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang, sejak malam itu, papa telah diubah dan telah menjadi sangat hormat dan sayang kepada mama. Menggandeng tangan anak-anak, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan kelak aku juga bercita- cita ingin mendapatkan pasangan yang seperti papa.
Kehidupan apapun yg kita jalani saat ini tidaklah penting yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi hidup ini terutama disaat-saat badai itu muncul."
Apakah Engkau Yesus?
Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai.
Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya.
Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain.
Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?"
Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata.
Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah."
Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan..."
Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta.
Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"
Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"
Apakah orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih, anugrah dan kehidupanNya... Jika kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di gereja. Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari demi hari. Anda adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya.
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!"
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit."
Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.
Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua - itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu."
Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.
Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!
Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"
Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah."
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00."
Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.
"Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."
"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."
Setelah satu minggu yang panjang mengajar dan memberi konseling di Norwegia, saya merasa "jenuh kepada orang".Saya menyukai pekerjaan saya, tetapi pada akhir minggu setelah setiap harinya melayani selama 18 jam, Saya sungguh ingin menyendiri. Ketika turun dari taksi di muka bandar udara internasional Oslo, diam-diam saya menaikkan sebuah doa.Permintaan saya sederhana sekali:yang saya inginkan hanyalah sebuah tempat duduk sendirian di pesawat, dengan ruang yang cukup luas untuk meluruskan kaki saya yang panjang(tinggi saya 1,8 meter lebih) dan beristirahat sepanjang penerbangan pulang ke Amsterdam yang memakan waktu 3 jam.
Berjalan menelusuri lorong pesawat, dengan agak membungkuk supaya kepala saya tidak membentur langit-langitnya, saya menemuka sebaris tempat duduk yang kosong dekat pembatas, itu berarti saya punya ruang ekstra bagi kaki saya dan suatu penerbangan yang tenang. Saya tersenyum sendiri ketika saya membalikkan tubuh untuk duduk di kursi pinggir dekat lorong, dan berpikir alangkah baiknya Tuhan, menjawab permintaan saya untuk memperoleh sedikit ketenangan dan istirahat. "Tuhan mengerti betapa lelahnya saya," pikir saya.
Ketika saya meletakkan tas saya di bawah kursi di depan, seorang pria yang berpakaian sedikit kumal mendekat sambil tersenyum dan menyapa saya dengan suara keras: "Hei! Orang Amerika ya?"
"Ya...ya benar," jawab saya dengan enggan.Saya mengambil tempat duduk di dekat lorong karena berpikir bahwa orang yang ingin duduk di sebelah saya tentu mengalami sedikit kesulitan sebab harus melewati kaki saya yang panjangnya! Orang itu duduk di barisan belakang saya, tetapi saya tidak menaruh perhatian kepadanya dan mulai membaca.
Beberapa menit kemudian, kepala laki-laki itu muncul dari samping.
"Baca apa?" tanyanya sambil mengintip dibalik pundak saya.
"Alkitab," jawab saya agak tidak sabar. Apakah ia tidak melihat bahwa saya tidak ingin diganggu? Saya kembali bersandar ke belakang, tetapi beberapa menit kemudian mata yang sama kembali muncul dari balik kursi saya. "Apa pekerjaan Anda? katanya.
Karena tidak mau terlibat dalam percakapan panjang, saya menjawab dengan singkat, "Sejenis pekerjaan sosial," kata saya dengan harapan ia tidak tertarik.
Saya merasa sedikit terganggu karena sudah tidak menceritakan yang sebenarnya, tetapi saya tidak berani mengatakan bahwa saya terlibat dalam membantu orang yang sengsara di jantung kota Amsterdam. Hal itu pasti akan memancing pertanyaan-pertanyaan lain.
"Boleh saya duduk di sebelah Anda?" ia bertanya sambil melangkahi kaki-kaki saya.Tampaknya ia mengabaikan usaha saya untuk tidak mengobrol dengannya. Mulutnya bau alkohol dan ludahnya memercik ketika ia berbicara, membasahi muka saya seperti hujan gerimis.
Sikapnya yang menjengkelkan itu membuat saya amat kesal.Ketidakpekaannya telah menggagalkan semua rencana saya untuk menikmati pagi yang tenang ini. "Oh Tuhan," saya mengeluh dalam hati, "Tolonglah saya"
Percakapan kami mulanya berjalan dengan lamban. Saya menjawab beberapa pertanyaan tentang pekerjaan kami di Amsterdam dan saya mulai bertanya-tanya mengapa laki-laki ini sangat ingin berbicara dengan saya. Ketika percakapan semakin berlanjut, saya mulai sadar bahwa sayalah yang kurang peka.
"Isteri saya seperti Anda," katanya kemudian. "Ia berdoa bersama anak-anak, menyanyikan lagu untuk mereka dan mengajak mereka ke gereja. "Sesungguhnya", katanya perlahan dengan mata yang mulai basah, "Dialah satu-satunya kawan sejati yang pernah saya punyai"
"Pernah?" tanya saya. "Mengapa Anda berkata tentangnya seperti itu?"
"Dia telah pergi." Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Ia meninggal tiga bulan yang lalu ketika melahirkan anak kami yang kel lima."Mengapa?", tanyanya dengan terisak, "mengapa Allahmu mengambilnya pergi?Isteri saya begitu baik.Mengapa bukan saya?Mengapa justru dia?Sekarang pemerintah mengatakan saya tidak cocok untuk mengurus anak-anak saya sendiri, dan mereka juga pergi."
Saya memegangi tangannya dan kami menangis bersama. Betapa egoisnya saya! Saya hanya memikirkan kebutuhan saya untuk beristirahat padahal laki-laki ini sangat membutuhkan pertolongan.
Ia melanjutkan kisahnya pada saya. Setelah isterinya meninggal, seorang pekerja sosial menganjurkan agar anak-anaknya di urus oleh negara. Ia begitu sedih sehingga tidak dapat bekerja, dan iapun kehilangan pekerjaannya. Hanya dalam beberapa minggu ia kehilangan isterinya, anak-anaknya dan pekerjaannya. Karena liburan tinggal beberapa minggu lagi, ia tidak tahan untuk merayakan natal seorang diri. Sekarang ia sedang berusaha menghilangkan kesedihannya.
Ia terlalu pahit untuk dihibur. Ia telah dibesarkan oleh empat ayah tiri yang berbeda dan ia tidak pernah mengenal ayahnya yang sebenarnya. Mereka semua adalah laki-laki yang keras. Ketika saya menyinggung Allah, ia bereaksi dengan pahit, "Allah?" katanya, "Saya pikir kalau memang ada Allah, Dia pasti monster yang kejam! Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih melakukan ini terhadapku?"
Ketika saya meneruskan pembicaran dengan orang yang terluka itu, Saya diingatkan kembali bahwa banyak orang di dunia ini yang tidak mengerti akan Allah yang merupakan seorang bapa yang penuh kasih. Berbicara tentang allah Bapa yang penuh kasih hanya akan menimbulkan kepedihan dan kemarahan dalam hati mereka. Berbicara mengenai hati Allah sebagai bapa kepada mereka, tanpa merasakan kepedihan mereka, hampir sama dengan suatu tindakan kejam.
Satu-satunya cara saya dapat menjadi kawan laki-laki itu dalam perjalanan dari Oslo ke Amsterdam ialah dengan menjadi kasih Allah baginya. Saya tidak berusaha untuk memberi jawaban yang sempurna. Saya hanya membiarkannya marah lalu menawarkan minyak belas kasihan bagi luka-lukanya. Ia ingin percaya kepada Allah, tetapi jauh d idalam hatinya, rasa keadilannya telah diperkosa.
Ia membutuhkan seseorang yang dapat mengatakan bahwa tidak apa ia marah dan mengatakan kepadanya bahwa Allah juga marah terhadap ketidakadilan. Setelah Saya mendengarkannya dan mempedulikannya serta menangis bersamanya, ia siap mendengarkan kata-kata saya bahwa Allah lebih sedih daripada dirinya atas apa yang telah terjadi dengan isteri dan keluarganya.
Tak ada seorangpun yang pernah mengatakan kepadanya bahwa Allah juga mengenal; kepedihan hati yang hancur.
Ia mendengarkan dengan diam sementara saya jelaskan bagaimana ciptaan Allah begitu rusak karena dosa dan sikap egois, sehingga kini menjadi berbeda seluruhnya dari apa yang ia ciptakan semula.
Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang kita semua pernah menanyakannya: Mengapa? Mengapa Dia menciptakan sesuatu yang dapat jatuh dan menjadi rusak? Jika ia adalah Bapa yang penuh kasih, mengapa ia ijinkan segala penderitaan itu?
Kemudian saya membagikan beberapa jawaban yang telah menolong saya.
Banyak orang tidak dapat memahami bahwa ada Allah yang baik tetapi mengijinkan penderitaan. Namun jika tidak ada Allah yang berkepribadian kekal, penderitaan manusia kehilangan arti sama sekali. Jika tidak ada Allah, maka manusia hanyalah suatu produk yang kompleks dari suatu waktu dan kebetulan. Hanya merupakan suatu akibat dari proses evolusi. Jika itu benar, maka penderitaan hanyalah suatu masalah yang bersifat fisik dan kimiwai.
Jika tidak ada Allah, tidak akan ada kemurnian moral, dan tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa setiap bentuk penderitaan adalah salah secara moral.
Dengan menyangkal eksistensinya, manusia menyangkal arti kehidupan itu sendiri dan karenanya juga menyangkal dasar dari perkataan bahwa tidaklah benar bagi manusia untuk menderita.
Tanpa Allah kita bahkan tidak dapat mengajukan pertanyaan, "Mengapa orang yang tidak bersalah menderita?" karena tidak ada yang disebut tidak bersalah.
Tidak bersalah mengandung arti salah, dan salah menyatakan secara tidak langsung bahwa ada hal-hal yang mutlak tidak benar secara moral.
Saya percaya menderita itu salah, dan fakta bahwa Allah itu ada mengijinkan saya untuk mengatakannya dengan tegas. Namun penegasan itu membawa kita kepada pertimbangan lain yang penting. Bagaimana perasaan Allah terhadap penderitaan dan kejahatan di dalam ciptaanNya. Alkitab berkata bahwa Dia sangat berduka di dalam hatinya. (Kejadian 6:5-6)
Dr. Lin Ting Tung adalah orang Taiwan pertama yang
menjadi dokter dan menjadi Kristen. Ini terjadi pada
akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang
dirintis oleh Dr. Maxwell,seorang misionaris Inggris.
Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan
sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat
sederhana.
Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit itu
dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat
malaria. Anak ini berjalan lebih dari dua jam dari
desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak melewati
hutan dan sawah.
Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung
bangkit dari bangkunya,meraih botol obat dan bergegas
pulang. Sore harinya pukul lima , ketika kamar obat
akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan
berbisik,
"Dokter Lin,botol obat untuk pasien malaria masih ada
disini. Tetapi ada satu botol yang hilang.
Isinya disinfektan. Dr. Lin terkejut,diperiksan ya
botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria.
Jadi, anak tadi membawa botol yang salah!
Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan
berwarna sama lagipula, baik obat malaria maupun
disinfektan sama-sama cairan.
"Celaka kita. ibu itu bisa mati. Disinfektan itu obat
keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai
diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati"
ujar Dr. Lin dengan wajah pucat. Segera mereka
melaporkan peristiwa ini kepada Dr.Maxwell.
Ia juga terkejut. "Sekarang pukul lima , anak itu
pergi dari sini pukul tiga jadi Ia sudah hampir tiba.
Tidak mungkin kita mengejarnya.
Kita tidak tahu jalan kedesa itu" ujar Dr.Maxwell.
Dr.Maxwell termenung. lalu ia berkata, "Mulai hari ini
semua obat keras tidak boleh diletakkan diatas meja.
sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul.Kita
akan berdo'a."
Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit
itu berkumpul dan berdo'a. Dr. maxwell berdo'a,
"Tuhan, kami telah membuat kecerobohan. Ampunilah
kami.Nyawa seorang ibu sedang terancam.
Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat
yang salah itu......"
Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus
bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya,
ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak
yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat
ketakutan.
Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling
memandang dengan gugup.
Kemudian anak ituberkata, "Ma'af dokter. Kemarin saya
bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh botol
itu pecah dan isinya tumpah".
Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung
bertanya, Kapan Jatuhnya? anak itu menjadi makin
ketakutan, "Ma'af, dokter.
Saya baru datang sekarang. jatuhnya kemarin sore,
menjelang gelap," Dr. Lin langsung ingat : Menjelang
gelap....itu adalah saat ketika semua karyawan rumah
sakit berkumpul mendo'akan ibu anak ini!
Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu
tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah
jalan.
Kita bisa lihat peristiwa ini dari sudut si anak. Ia
pulang membawa botol obat ini sambil berlari. Ia ingin
cepat-cepat memberikan obat ini kepada ibunya.Ia ingin
menunjukan baktinya kepada ibunya. Ia ingin ibunya
cepat sembuh. Anak ini tidak mengetahui bahwa botol
yang sedang dipegangnya berisi racun. Ia tidak bisa
membaca tulisan dibotol itu. Ia buta huruf Anak ini
berlari terus. Jalan dari desa ke rumah sakit di
kota sangat jauh. Perginya dua jam, pulangnya dua jam.
Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia tersandung. Ia jatuh.
Mungkin Ia terluka, tetapi yang paling celaka:
Botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya tumpah
ditanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia
kecewa, sedih dan takut.
Bagaimana kalau penyakit ibunya makin parah. Bagaimana
kalau dokter itu marah? Anak ini sangat terpukul oleh
kejatuhan ini.
Saat itu ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia
ini menolong nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan
ersenyum, "Ah, itu cuma kebetulan," namun
orang percaya akan bersaksi, "Tuhan bisa bekerja
melalui sebuah kebetulan,"
itulah juga kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28 :
"....Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia......."
"SEGALA SESUATU" berarti segala keadaan atau segala
kejadian, baik berhasil maupun kejatuhan. Kejatuhan
dapat berbentuk musibah, penyakit atau kegagalan.
Seringkali kita mengira bahwa Allah hanya hadir dan
bekerja dalam keberhasilan. Padahal Allah juga hadir
dan bekerja dalam kejatuhan. Apa tujuan Allah bekerja
dalam kejatuhan?
Paulus menjawab,".. ...untuk mendatangkan
KEBAIKAN.... .."
Jadi Tuhan dapat mendatangkan kebaikan melalui sebuah
kejatuhan
Pada suatu hari, ada seorang anak SD yang sedang duduk melamun seorang diri. Anak SD ini seperti biasanya setelah jam istirahat tiba atau jam pulang tiba, dia langsung duduk membaca buku dan duduk jauh dari teman-temannya. Anak ini adalah anak dari keluarga Kristen. Dari semenjak kecil, anak ini sering sakit dan bahkan pernah demam tinggi yang menyebabkan kelumpuhan pada kakinya sehingga dia harus memakai kursi roda ke sekolahnya.
Kemudian sang guru memperhatikannya, dan mulai menyapa anak itu, sementara anak-anak yang lain sudah pulang dan sekolah mulai sepi.
Guru itu bertanya kepada anak itu " Nak, tidakkah kamu mau memiliki banyak teman yang bisa mengerti dan memahami dirimu? " .
Lalu sang anak ini terdiam cukup lama. Kemudian anak itu mengatakan " Bu, siapa yang tidak mau mempunyai teman? Saya mau mempunyai teman tapi siapa yang mau berteman dengan saya sementara saya cacat, tanganpun cacat, saya malu bu. Dari semenjak saya lahir, tangan saya cacat, kemudian saat saya kecil, demam pada tubuh saya tinggi dan akibatnya saya cacat dan harus selamanya duduk di kursi roda ini. Tidak ada orang yang memperdulikan saya bu, tidak ada satupun bahkan mama sayapun membenci saya apalagi papa saya selalu memarahi saya setiap hari. Saya merasa diri saya tidak berguna bu, saya tidak berarti.”
Sang guru terdiam dan terharu melihat keadaan anak itu akan tetapi kemudian sang guru mulai berkata "Nak, walaupun kamu seperti itu, cacat, biarpun teman-teman tidak mengasihimu dan bahkan papa dan mama membencimu tapi ingatlah Tuhan tidak pernah membencimu. Tuhan menyayangimu sebagaimana adanya . Engkau sangat berharga di mataNya dan Engkau dijadikanNya sebagai biji mataNya ( Yesaya 43:4; Ulangan 32:10).
Jadi mulai saat ini cobalah untuk maju dan cobalah mendekati teman-temanmu, pasti engkau akan mendapat banyak teman nantinya. Akhirnya anak itu bertumbuh besar dan memiliki banyak teman.
Dalam kehidupan ini, setiap orang diciptakan Tuhan berbeda satu dengan yang lainnya ada yang hitam, putih, rambut keriting, lurus, pintar, bodoh, kaya maupun miskin, cantik maupun kurang cantik namun semua manusia kepunyaanNya adalah manusia yang mulia dan berharga di mataNya. Saat ini ketika kita merasa sepertinya kurang dalam hal ini dan itu, janganlah sedih sebab Engkau sangat berharga di mataNya dan Engkau adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mulia. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
